Saat itu malam tenang, sejuk dan damai. Bahkan denyut nadi pun
terdengar olehku. Aku berjalan gugup ke arah bangku taman sendirian, menuju
wanita cantik yang selalu duduk di sana setiap malam. Kami sudah saling kenal
dan sangat akrab, sebut saja namanya Cahaya. Dan namaku Ilham jika kau ingin
tahu.
"Ini pasti sangat romantis dan mengejutkannya" ucap ku.
Seikat bunga yang kupegang di belakang punggungku, siap kuberikan,
pakaian rapi dan wewangian tak lupa kukenakan. Aku terus berjalan perlahan, mempersiapkan kata-kata dengan menelan
seluruh gugup dan degup. Berharap berakhir dengan pelukan dan kasih sayang
nyata, aku berjalan dan siap menyatakan cinta.
1 langkah, 2 langkah..
Deg!
Langkahku terhenti, senyumku pun menutup, dan tetes air mataku nan
lembut, jatuh menembus tanah yang lunak setelah melihat seorang pria yang
berlutut di hadapan Cahaya dan mengatakan entah apa di sana, yang kemudian,
mereka saling berpeluk mesra. Mereka terlihat seperti paku-paku yang terbang ke arahku, cepat, banyak, dan menembus
tulang-tulangku. Aku hanya diam dan menangis perlahan. Semua hening dan sunyi.
Aku pedih dan perih.
Genggamanku melemah dan menjatuhkan apa yang kupengang. Seikat bunga
dan beberapa tetesan air mataku pun terjatuh. Aku berbalik arah dan berjalan
pulang dengan luka mendalam.
Aku tak kuasa menahan deras tangis yang membasahi pipiku, dan
aku terus melangkahkan
kaki untuk menjauh.
Saat itu, semua terdengar begitu sunyi, sangat sunyi hingga aku
tidak dapat mendengar apa-apa selain kesepian.
Melangkah-menetes-melangkah-menetes. Begitu tiada henti.
Hingga..
Dari belakangku, lingkar lengan mengelilingi pinggangku, dan kepalanya
menyandar pada pundakku. Aku berhenti melangkah seketika.
"Ham" katanya
Jantungku berdetak cepat, sangat cepat, saat kusadari bahwa aku berada di
dalam kehangatan pelukan, pelukan seorang wanita. Dia Cahaya, wanita yang aku
sendiri tak menyadari kehadirannya, sampai dia memelukku dan meletakkan wajahnya di bahuku. Pelukannya begitu hangat untuk sepiku
yang beku. Aku cair dalam kesunyian.
Kemudian aku menghapus air mataku dan bertanya, "Kamu? Kenapa kamu
di sini?" dia melepaskan pelukannya dan membalikkan badanku lalu menampar
pipi kiriku. Tamparannya begitu kuat, bahkan aku masih dapat merasakannya.
"Aku sudah tahu kenapa kamu datang ke taman tadi, tapi kamu tidak
tahu apa maksud aku ke sini? " Tanyanya dengan
sedikit marah (Hm, banyak sepertinya).
"Maaf, tapi aku benar-benar tidak tahu, Cahaya." Tentu aku
tidak tahu, maksudnya bagaimana aku bisa tahu? Dia bahkan tidak memberi pilihan
ganda. Hm?
"Ham, sekarang katakan apa yang ingin kau katakan sebelum kau
pergi meninggalkan bunga ini." Ia memberiku bunga yang telah kujatuhkan
tadi.
Deg!
"Aku.. aku.. umm.. aku tadi ingin megatakan padamu bahwa..aku.. mmm..mmenyukaimu
dan ingin menanyakan apa kamu mau jadi kekasihku? I..iya aku tahu jawabannya. Kamu pasti tak mau menjadi kekasihku. Bahkan
kamu tak punya rasa yang sama sepertiku." Aku menjawab dengan menahan gugup.
Dan tentu saja, aku berharap aku salah.
"Kamu bodoh, Ham, bodoh!” dia menundukkan kepalanya seolah kecewa “Sungguh kamu benar-benar bodoh! aku datang mengejarmu
karena aku juga mencintaimu, menyayangimu dengan sepenuh hati, seperti dirimu.
Tapi kamu terlalu bodoh untuk menyadarinya." Air di matanya mulai menetes,
aku melihat beberapa tetesannya jatuh di tanah.
"Tapi aku melihatmu dengan seorang pria,
kalian terlihat sangat senang, seperti telah saling
menyatakan cinta. Kalian juga terlihat cocok, saling
cinta, saling menyayangi satu sama lain, layaknya cinta sejati. Dan kalian
itu.. cocok." Jelasku dengan sedikit berbohong (mungkin terlalu banyak).
"Ham, kamu memang bodoh, ya. Kamu tahu? Sesungguhnya
cinta sejati adalah kita berdua..." ucapnya dengan menggenggam tanganku
dan memperlihatkan matanya yang berlinangan air mata itu padaku, "Namun, ini bergantung dengan seberapa tulusnya dirimu
mencintaiku. Aku akan tetap mencintaimu sampai akhir hidupku. Tapi aku tidak
ingin bersamamu untuk saat ini. Aku akan tetap bersama pria tadi, pria lainnya atau
tanpa sesiapa, aku akan menjadi dewasa dengan caraku, dan sebaiknya kau pun
demikian. Terpenting, aku akan berusaha untuk tidak merusak benih cinta yang
kita tanam berdua." Aku sungguh menyimaknya dengan antusias, "Ham,
cinta adalah benih, dan kecemburuan adalah air. Itulah sebabnya aku mengatakan
bahwa cinta kita bergantung kepadamu. Ham, untuk menumbuhkan benih, tidak boleh
terlalu banyak air, atau nanti akan mati. Juga sebaliknya, kekurangan air hanya
akan sebabkan kekeringan, dan berakhir dengan layu, atau bahkan tidak tumbuh.
Aku akan tetap menjaga cinta kita berdua, untuk masa depan yang bahagia,
menjalin keluarga. Setidaknya kita harus bertahan sampai kita berdua telah
siap, dan itu entah sampai kapan. Dan selama itu, kamu juga bebas untuk bersama
wanita lain. Ham, jika kamu benar-benar mencintaiku, selama kita tidak bersama,
sirami benih kita secukupnya, ya, aku benar-benar sangat mencintaimu." Ucapnya dengan tak
henti-hentinya meneteskan air mata.
Aku hanya diam, beku karena kata-katanya. Air mataku menetes, dan tak
ada lagi yang dapat kukatakan selain mengangguk menyanggupinya. Kemudian, memeluknya
dengan erat, berterima kasih dan berharap sedihnya segera usai.
Sungguh, ia membalas pelukanku dengan sama eratnya. Dan kami
berpelukkan sangat lama. Entah dengannya, tapi aku memejamkan mataku dengan
membayangkan masa depan. Membayangkan betapa lamanya kami harus menunggu untuk
dapat bersama-sama menjalin kisah cinta, dan membayangkan betapa lamanya aku
harus merasakan rindu dan cemburu, aku seakan tak mau lepas dari peluknya,
karena aku tak yakin peluk ini dapat mengobati kesendirian yang panjang nanti.
Inikah cinta sejati? Kurasa belum. Tunggu sampai kami
dapat bersama untuk selama-lamanya. Yaitu saat benih yang telah kami tanam dapat
tumbuh tinggi dan berbunga.
----------
Saya Ilham dengan
sedikit pesan, mohon terima tanpa sungkan; jangan bimbang menuju masa depan,
selama nama belum di dalam nisan. | Inspirasi datang,
kita yang mengembangkan.