Tiga
puluh lima menit yang lalu, saya tertawa lepas terhadap apa pun. Yang memang
lucu dan yang seharusnya tidak lucu pun saya tetap tertawa senang. Namun sekarang,
secara tiba-tiba hati saya murung entah kenapa. Saya merasa sedih tak keruan.
Ingin menangis tapi tak tahu harus menangis untuk apa.
Tiga puluh lima
menit yang lalu saya tertawa lepas, sekarang saya sedih tanpa alasan.
Ini
sama seperti minggu lalu. Mood saya yang tiba-tiba memburuk (minggu lalu)
membuat saya bingung karena saya tidak bisa menangis dengan alasan yang tidak
jelas. Tapi saya merasa bahwa sedih ini harus keluar seleluasa tawa saya sebelumnya.
Dan malam itu, bantal yang saya gunakan untuk menutup wajah saya, basah sebagian.
Saya melepas sedih di tempat saya tidur, pada tengah malam.
Lalu
keesokan harinya, saya menceritakan semuanya kepada teman saya. Dan dia
mengatakan bahwa saya sakit rindu. Sungguh, sok tahu sekali dia.
"Selamat! Loe
terkena penyakit rindu. Tapi tenang, obatnya sederhana banget yaitu temu."
-Ungkap teman saya
dengan sok tahu, enam hari yang lalu.
Dan
sekarang, setelah membasahi bantal dengan air mata (lagi) dan bertanya-tanya tentang
siapa yang mungkin saya rindukan,
kalimat keparat dari teman saya itu mengiang-ngiang di kepala saya. Dan membuat
saya ngeri terhadap dua hal:
Pertama,
bila obat rindu adalah temu, maka akan sulit mengobati saya yang merindu kepada
entah-siapa; dan
Kedua,
bila rindu adalah sebuah penyakit, maka saya tidak tahu bagian mana yang harus
diobati, dan itu berarti sekarang saya sedang sekarat. Hampir mati dibunuh
rindu.
Oh
ya ampun.
Air mata menetes
lagi dari mata saya, menyerap di bantal yang sudah basah sebagian.
"Mungkin, saya butuh temu, dengan dosis yang tinggi
"
----------
Ilhamsetiabudi dari Blogspot
adalah contoh kata kunci untuk menemukan saya dari kolom Google.
Saya rasa cukup.
Sampai jumpa lagi! Kalau masih hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar