Minggu, 09 Oktober 2016

Keresahan pada Sebuah Seminar

Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa mahasiswa yang lainnya mengikuti seminar yang bertemakan ”young entrepreneur”. Dan, kutipan di bawah adalah salah satu perkataan dari salah satu pembawa acara di acara tersebut.
“hahaha.. kasih sukanya aja, nanti kalau dikasih tau dukanya malah pada gak mau jadi wirausahawan..”

Seperti menghadapi anak kecil, ya.

Seperti kamu jadi polisi aja, enak tau, nanti nangkep-nangkepin penjahat.. atau, dalam hal ini, kamu jadi wirausahawan aja, enak tau, hobi jadi duit, terkenal, dan punya banyak harta..

Pembodohan.

Setiap pekerjaan pun menyenangkan bagi yang bersyukur.


Selain itu, bukankah lebih baik diberi tahu apa adanya agar yang mendengarkan bisa mempersiapkan diri? 

Yang Dulunya Kucing Rumah

Gua lagi di teras, lagi makan. Seperti biasa, kucing putih itu selalu duduk sok manis di depan gua supaya dapat makan.
Dulunya, dia itu kucing rumah. Gua tau banget, majikannya pindah kontrakan, dan dia ditinggal begitu aja; tanpa bekal makanan, tanpa bekal kemampuan mencari makanan. Terbiasa disajikan makanan, sekarang harus mencari sendiri. Terbiasa makan makanan enak, sekarang harus makan makanan seadanya; syukur-syukur ada yang mau berbagi makanan, kalau enggak, mungkin mengais di tempat pembuangan sampah. Yaa begitulah, itulah alasan badannya kurus seperti itu sekarang. Dan kotor.

Gua coba kasih tempe, ah.

Eh, dia mau. Haha. Yaudah, kebetulan gua 'gak suka. Mending buat dia aja, yang enggak pilih-pilih makanan.

Eh, iya ya..

Yaudah deh, bagi dua aja, gua juga 'gak boleh pilih-pilih makanan. Lagipula, tempe itu jauh lebih baik dibanding kalau gua harus mengais makanan di tempat pembuangan sampah.

Nih, meng, nasinya bagi dua juga, supaya lo gendutan. Minimal kenyanglah..

Anyway, kucing ini punya trauma dengan sandal, loh. Nih, ya, lo lihat sandal-sandal di sudut sana, 'kan? Sekarang lihat ke sandal swallow yang warna hijau itu, pasti kalau gua seret sedikit dia bakal ketakutan. Nih, gua coba..

Tuh kan, dia langsung mundur ke kolong motor sambil melirik gua dan sandal yang gua pegang. Ketakutan gitu dia.

Iya, gua pikir juga dia sering dipukul pakai sandal sama orang lain. Aneh, ya, padahal kalau di sini dia selalu duduk manis di depan siapapun yang lagi makan. Dan gua yakin, di tempat lain pun demikian.


Sedih rasanya, kalau duduk manis pun masih dipukuli. Lantas, bagaimana caranya agar bisa mendapatkan makanan? Mungkin, jika dia adalah manusia, dia akan berusaha mencari pekerjaan. Agar mendapat uang, dan setidaknya bisa membeli dan memakan tempe.