Sabtu, 16 Agustus 2014

Benih Cinta

Saat itu malam tenang, sejuk dan damai. Bahkan denyut nadi pun terdengar olehku. Aku berjalan gugup ke arah bangku taman sendirian, menuju wanita cantik yang selalu duduk di sana setiap malam. Kami sudah saling kenal dan sangat akrab, sebut saja namanya Cahaya. Dan namaku Ilham jika kau ingin tahu.

"Ini pasti sangat romantis dan mengejutkannya" ucap ku.


Seikat bunga yang kupegang di belakang punggungku, siap kuberikan, pakaian rapi dan wewangian tak lupa kukenakan. Aku terus berjalan perlahan, mempersiapkan kata-kata dengan menelan seluruh gugup dan degup. Berharap berakhir dengan pelukan dan kasih sayang nyata, aku berjalan dan siap menyatakan cinta.

1 langkah, 2 langkah..

Deg!

Langkahku terhenti, senyumku pun menutup, dan tetes air mataku nan lembut, jatuh menembus tanah yang lunak setelah melihat seorang pria yang berlutut di hadapan Cahaya dan mengatakan entah apa di sana, yang kemudian, mereka saling berpeluk mesra. Mereka terlihat seperti paku-paku yang terbang ke arahku, cepat, banyak, dan menembus tulang-tulangku. Aku hanya diam dan menangis perlahan. Semua hening dan sunyi. Aku pedih dan perih.

Genggamanku melemah dan menjatuhkan apa yang kupengang. Seikat bunga dan beberapa tetesan air mataku pun terjatuh. Aku berbalik arah dan berjalan pulang dengan luka mendalam.

Aku tak kuasa menahan deras tangis yang membasahi pipiku, dan aku terus melangkahkan kaki untuk menjauh.

Saat itu, semua terdengar begitu sunyi, sangat sunyi hingga aku tidak dapat mendengar apa-apa selain kesepian.

Melangkah-menetes-melangkah-menetes. Begitu tiada henti.

Hingga..

Dari belakangku, lingkar lengan mengelilingi pinggangku, dan kepalanya menyandar pada pundakku. Aku berhenti melangkah seketika.

"Ham" katanya

Jantungku berdetak cepat, sangat cepat, saat kusadari bahwa aku berada di dalam kehangatan pelukan, pelukan seorang wanita. Dia Cahaya, wanita yang aku sendiri tak menyadari kehadirannya, sampai dia memelukku dan meletakkan wajahnya di bahuku. Pelukannya begitu hangat untuk sepiku yang beku. Aku cair dalam kesunyian.

Kemudian aku menghapus air mataku dan bertanya, "Kamu? Kenapa kamu di sini?" dia melepaskan pelukannya dan membalikkan badanku lalu menampar pipi kiriku. Tamparannya begitu kuat, bahkan aku masih dapat merasakannya.

"Aku sudah tahu kenapa kamu datang ke taman tadi, tapi kamu tidak tahu apa maksud aku ke sini? " Tanyanya dengan sedikit marah (Hm, banyak sepertinya).

"Maaf, tapi aku benar-benar tidak tahu, Cahaya." Tentu aku tidak tahu, maksudnya bagaimana aku bisa tahu? Dia bahkan tidak memberi pilihan ganda. Hm?

"Ham, sekarang katakan apa yang ingin kau katakan sebelum kau pergi meninggalkan bunga ini." Ia memberiku bunga yang telah kujatuhkan tadi.

Deg!

"Aku.. aku.. umm.. aku tadi ingin megatakan padamu bahwa..aku.. mmm..mmenyukaimu dan ingin menanyakan apa kamu mau jadi kekasihku? I..iya aku tahu jawabannya. Kamu pasti tak mau menjadi kekasihku. Bahkan kamu tak punya rasa yang sama sepertiku." Aku menjawab dengan menahan gugup. Dan tentu saja, aku berharap aku salah.

"Kamu bodoh, Ham, bodoh!” dia menundukkan kepalanya seolah kecewa “Sungguh kamu benar-benar bodoh! aku datang mengejarmu karena aku juga mencintaimu, menyayangimu dengan sepenuh hati, seperti dirimu. Tapi kamu terlalu bodoh untuk menyadarinya." Air di matanya mulai menetes, aku melihat beberapa tetesannya jatuh di tanah.

"Tapi aku melihatmu dengan seorang pria, kalian terlihat sangat senang, seperti telah saling menyatakan cinta. Kalian juga terlihat cocok, saling cinta, saling menyayangi satu sama lain, layaknya cinta sejati. Dan kalian itu.. cocok." Jelasku dengan sedikit berbohong (mungkin terlalu banyak).

"Ham, kamu memang bodoh, ya. Kamu tahu? Sesungguhnya cinta sejati adalah kita berdua..." ucapnya dengan menggenggam tanganku dan memperlihatkan matanya yang berlinangan air mata itu padaku, "Namun, ini bergantung dengan seberapa tulusnya dirimu mencintaiku. Aku akan tetap mencintaimu sampai akhir hidupku. Tapi aku tidak ingin bersamamu untuk saat ini. Aku akan tetap bersama pria tadi, pria lainnya atau tanpa sesiapa, aku akan menjadi dewasa dengan caraku, dan sebaiknya kau pun demikian. Terpenting, aku akan berusaha untuk tidak merusak benih cinta yang kita tanam berdua." Aku sungguh menyimaknya dengan antusias, "Ham, cinta adalah benih, dan kecemburuan adalah air. Itulah sebabnya aku mengatakan bahwa cinta kita bergantung kepadamu. Ham, untuk menumbuhkan benih, tidak boleh terlalu banyak air, atau nanti akan mati. Juga sebaliknya, kekurangan air hanya akan sebabkan kekeringan, dan berakhir dengan layu, atau bahkan tidak tumbuh. Aku akan tetap menjaga cinta kita berdua, untuk masa depan yang bahagia, menjalin keluarga. Setidaknya kita harus bertahan sampai kita berdua telah siap, dan itu entah sampai kapan. Dan selama itu, kamu juga bebas untuk bersama wanita lain. Ham, jika kamu benar-benar mencintaiku, selama kita tidak bersama, sirami benih kita secukupnya, ya, aku benar-benar sangat mencintaimu." Ucapnya dengan tak henti-hentinya meneteskan air mata.

Aku hanya diam, beku karena kata-katanya. Air mataku menetes, dan tak ada lagi yang dapat kukatakan selain mengangguk menyanggupinya. Kemudian, memeluknya dengan erat, berterima kasih dan berharap sedihnya segera usai.

Sungguh, ia membalas pelukanku dengan sama eratnya. Dan kami berpelukkan sangat lama. Entah dengannya, tapi aku memejamkan mataku dengan membayangkan masa depan. Membayangkan betapa lamanya kami harus menunggu untuk dapat bersama-sama menjalin kisah cinta, dan membayangkan betapa lamanya aku harus merasakan rindu dan cemburu, aku seakan tak mau lepas dari peluknya, karena aku tak yakin peluk ini dapat mengobati kesendirian yang panjang nanti.

Inikah cinta sejati? Kurasa belum. Tunggu sampai kami dapat bersama untuk selama-lamanya. Yaitu saat benih yang telah kami tanam dapat tumbuh tinggi dan berbunga.

----------


          Saya Ilham dengan sedikit pesan, mohon terima tanpa sungkan; jangan bimbang menuju masa depan, selama nama belum di dalam nisan. | Inspirasi datang, kita yang mengembangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar