Rabu, 15 Juni 2016

Seolah Arwah

Seolah arwah penasaran, dirinya datang ke kehidupan saya. Arwah yang penasaran terhadap beberapa hal, yang ingin mencapai beberapa tujuan, dan sesudahnya pergi kembali ke alamnya dengan tenang.

Memang, saya pernah merapalkan doa, berharap akan datang seseorang yang bisa memperbaiki semangat belajar saya, tapi siapa sangka? Lelaki dari masa lalu, yang datang karena ingin memastikan 'apakah saya membencinya karena kejadian 5 tahun lalu' adalah orang yang didatangkan Yang Maha Perencana untuk menjawab doa saya.

Awal kedatangannya, saya selalu menghindar.  Bukan karena benci--rasa benci itu sudah lama pergi sebenarnya--tapi karena cara dia datang sama seperti awal pertemuan kami, saya takut dibuatnya jatuh cinta lagi. Bukan karena saya sudah punya kekasih, tapi karena waktunya yang tidak tepat. Saya sedang tidak ingin jatuh cinta. Sedang tidak ingin teracuni.

Tapi tetap saja, hati saya hanya sekeras batu es, cepat atau lambat pasti akan cair. Saya wanita lemah. Mudah terlarut dalam waktu dan kehangatan.

Saya selalu ketus padanya, guna menutupi perasaan saya yang sebenarnya sudah cair. Tapi, saya selalu merespons.

Ah! Saya munafik. Padahal saya benci membohongi diri sendiri.

Jelang ujian besar kala itu, memang semangat belajar saya buruk. Sangat buruk. Tapi dengan lelaki itu, yang selalu berbagi cerita kehidupan sehari-harinya dan memberi beberapa paragraf motivasi membuat saya sadar bahwa saya harus memperbaiki semangat belajar saya yang berantakan. Dan dia yang membantu saya untuk merapikannya, membuat saya yakin bahwa dia adalah jawaban doa saya.

Janji-janji kecil kami buat bersama. Janji sederhana untuk ujian besar yang akan datang, seperti berjanji untuk tidak berlaku curang, harus mendapat nilai sebesar-besarnya, berjanji untuk bersaing berdua, dan berjanji untuk memberikan hadiah kepada pemenangnya nanti. Itu bagus untuk meningkatkan semangat belajar saya 'kan?

Tapi, saya sudah buat kesalahan. Kesalahan besar. Maksudnya, untuk apa saya membuat janji? Membuat janji sama saja membuat ikatan dengannya. Bukankah saya ingin dia pergi? Hatiku sungguh sudah mencair.

Bahkan, lebih bodoh lagi. Saya membuat janji kepada diri saya sendiri untuk mengajaknya makan martabak bersama (martabak adalah makanan kesukaannya, dan saya belum pernah makan itu), bermain binggo dengannya, dan berbagi cerita cinta dengannya. Janji bodoh memang, tapi, hey dia tampan dan menyenangkan, apa salahnya? Ah sudahlah, lagipula itu tidak terjadi.

Kemudian, entah beruntung atau bukan, dia pergi. Setelah ujian besar itu selesai, tak pernah lagi dia menampakkan diri. Seolah arwah, dia datang hanya untuk mencapai tujuannya, membantu saya meningkatkan semangat belajar (doa saya dahulu kepada Tuhan)

Dia pergi dari kehidupan saya tanpa meninggalkan jejak. Seolah arwah, tidak menapak.
Dia pergi begitu saja setelah mencairkan hatiku? Ah, mestinya saya berdoa lebih dari yang seharusnya.
*****
Kemudian, di sepertiga malam ketika tanganku menengadah  untuk memanjatkan doa, di atas sajadah di ruangan gelap dan sepi, seolah ada suara berbisik di telinga kananku yang tertutup mukena "Kamu wanita yang cantik, juga pendoa yang baik. Aku akan senantiasa mencintaimu, dari sisi ini."
----------
Ini fiksi. Gue mah cowok.

*beep*

Ilhamsetiabudi dari Blogspot adalah contoh kata kunci untuk menemukan saya dari kolom Google.

Saya rasa cukup.


Sampai jumpa lagi! Kalau masih hidup.

2 komentar: