Seolah arwah penasaran, dirinya datang ke kehidupan saya.
Arwah yang penasaran terhadap beberapa hal, yang ingin mencapai beberapa tujuan,
dan sesudahnya pergi kembali ke alamnya dengan tenang.
Memang, saya pernah merapalkan doa, berharap akan datang
seseorang yang bisa memperbaiki semangat belajar saya, tapi siapa sangka? Lelaki
dari masa lalu, yang datang karena ingin memastikan 'apakah saya membencinya
karena kejadian 5 tahun lalu' adalah orang yang didatangkan Yang Maha Perencana
untuk menjawab doa saya.
Awal kedatangannya, saya selalu menghindar. Bukan karena benci--rasa benci itu sudah lama
pergi sebenarnya--tapi karena cara dia datang sama seperti awal pertemuan kami,
saya takut dibuatnya jatuh cinta lagi. Bukan karena saya sudah punya kekasih, tapi
karena waktunya yang tidak tepat. Saya sedang tidak ingin jatuh cinta. Sedang
tidak ingin teracuni.
Tapi tetap saja,
hati saya hanya sekeras batu es, cepat atau lambat pasti akan cair. Saya wanita
lemah. Mudah terlarut dalam waktu dan kehangatan.
Saya selalu ketus padanya, guna menutupi perasaan saya yang
sebenarnya sudah cair. Tapi, saya selalu merespons.
Ah! Saya munafik. Padahal
saya benci membohongi diri sendiri.
Jelang ujian besar kala itu, memang semangat belajar saya
buruk. Sangat buruk. Tapi dengan lelaki itu, yang selalu berbagi cerita kehidupan
sehari-harinya dan memberi beberapa paragraf motivasi membuat saya sadar bahwa
saya harus memperbaiki semangat belajar saya yang berantakan. Dan dia yang membantu
saya untuk merapikannya, membuat saya yakin bahwa dia adalah jawaban doa saya.
Janji-janji kecil kami buat bersama. Janji sederhana untuk
ujian besar yang akan datang, seperti berjanji untuk tidak berlaku curang,
harus mendapat nilai sebesar-besarnya, berjanji untuk bersaing berdua, dan berjanji
untuk memberikan hadiah kepada pemenangnya nanti. Itu bagus untuk meningkatkan
semangat belajar saya 'kan?
Tapi, saya sudah buat kesalahan. Kesalahan besar. Maksudnya,
untuk apa saya membuat janji? Membuat janji sama saja membuat ikatan dengannya.
Bukankah saya ingin dia pergi? Hatiku sungguh sudah mencair.
Bahkan, lebih bodoh lagi. Saya membuat janji kepada diri
saya sendiri untuk mengajaknya makan martabak bersama (martabak adalah makanan kesukaannya,
dan saya belum pernah makan itu), bermain binggo dengannya, dan berbagi cerita cinta
dengannya. Janji bodoh memang, tapi, hey dia tampan dan menyenangkan, apa
salahnya? Ah sudahlah, lagipula itu tidak terjadi.
Kemudian, entah beruntung atau bukan, dia pergi. Setelah
ujian besar itu selesai, tak pernah lagi dia menampakkan diri. Seolah arwah,
dia datang hanya untuk mencapai tujuannya, membantu saya meningkatkan semangat
belajar (doa saya dahulu kepada Tuhan)
Dia pergi dari
kehidupan saya tanpa meninggalkan jejak. Seolah arwah, tidak menapak.
Dia pergi begitu saja setelah mencairkan hatiku? Ah, mestinya
saya berdoa lebih dari yang seharusnya.
*****
Kemudian, di sepertiga malam ketika tanganku menengadah untuk memanjatkan doa, di atas sajadah di
ruangan gelap dan sepi, seolah ada suara berbisik di telinga kananku yang
tertutup mukena "Kamu wanita yang
cantik, juga pendoa yang baik. Aku akan senantiasa mencintaimu, dari sisi ini."
----------
Ini fiksi. Gue
mah cowok.
*beep*
Ilhamsetiabudi dari Blogspot adalah contoh kata kunci
untuk menemukan saya dari kolom Google.
Saya rasa cukup.
Sampai jumpa lagi! Kalau masih hidup.
Kenapa ga coba bikin cerita yg agak panjangan gitu? Ini bagus lho hehehe
BalasHapuspencintraan dia.
Hapus