Kamis, 30 Juni 2016

Saya Kenapa Belakangan Ini?

Kenapa ya belakangan ini saya selalu membayangkan, mengharapkan, dan menginginkan adanya sesosok wanita yang bisa mendengarkan, mengerti, dan memahami isi kepala saya?

Entah kenapa saya merasa saya ingin menuangkan isi kepala ini ke dalam dua cangkir di atas meja sebuah makan malam, lalu bersulang, lalu saya meminumnya, lalu dia pun meminumnya--hm, mungkin supaya setidaknya, kepala saya akan lebih ringan--kemudian di tegukan yang pertama akan bermunculan tawa-tawa, lalu di tegukan yang kedua bermunculannya sedih hingga tangis, lalu di tegukan yang ketiga muncullah sebuah paham yang mengerti, lalu di tegukan yang keempat muncullah tindak peluk hingga pelupuk mengutuk kantuk. Sampai akhirnya, Sang Pagi menyegera menjemput dua insan yang berpeluk.

Dengan demikian, sepertinya hati saya akan tenang sepanjang malam, dan kepala saya akan ringan untuk beberapa bulan ke depan.

Iya, sepertinya saya sedang ingin didengar, dan dimengerti, dan dipeluk.

Atau, menangis sepanjang malam, setiap malam.

Saya pun Ikut Percaya

Membaca memang sangat bermanfaat, karena akan menambah ilmu dan pemahaman.

Beberapa waktu lalu, saya membaca beberapa artikel tentang pengendara motor dan polisi yang saling mengadu argumen. Si polisi mengatakan bahwa pengendara motor itu salah karena tidak menggunakan helm, sehingga polisi itu menilangnya dan menagih uang untuk sesudahnya membebaskannya. Sedangkan si pengendara motor bersikukuh mengatakan bahwa dia tidak salah, dia bilang "kepala kepala gue, kenapa loe yang repot? Gue enggak mau bayar! Apa-apaan loe? Polisi cari kesalahan buat dapat uang. Cuih!"

Saya pikir, ada benarnya juga, ya, si pengendara itu, "kepala kepala gue". Hm.

Kemudian saya membaca artikel lain, kali ini tentang eksistensi Tuhan. Di artikel itu disebutkan bahwa Tuhan itu tidak ada, karena tidak ada wujud dan buktinya. Mereka yakin kalau Tuhan itu hanya omong kosong. Beberapa konflik disebutkan di artikel itu, memberi bukti-bukti bahwa kejadian atau fenomena alam bukan terjadi sebab Tuhan, melainkan ada teorinya yang disebut-sebut sebagai sains. Artikel itu menyebutkan bahwa angin yang tak kasat mata pun dapat dibuktikan keberadaannya sedangkan Tuhan tidak. Mereka bersikukuh untuk tidak memercayai ciri keberadaan Tuhan, dan yakin bahwa sesuatu yang tidak ada buktinya, tidaklah ada. Harus ada ciri, bukti sains, dan bukti fisiknya.

Wah, saya pikir-pikir ada benarnya juga, ya, artikel itu, sepertinya Tuhan memanglah tidak ada karena tidak bisa dilihat. Iya, saya yakin itu. Tunggu, jangan-jangan saya ini tidak memiliki otak? Saya 'kan tidak pernah melihat otak saya, otak saya tidak bisa dibuktikan keberadaannya, meskipun ada cirinya, dan ada dalam sains, tapi kalau tidak ada bukti fisiknya, tidak mungkin ada 'kan? Bisa saja saya adalah manusia yang tidak memiliki otak yang mampu bertahan hidup. Bisa berpikir bukan berarti saya memiliki otak, karena harus ada bukti fisiknya, setidaknya saya harus melihatnya. Tapi, kalau saya pergi ke ruang bedah untuk membuka kepala saya, apa saya bisa melihat otak saya dengan kedua mata saya? Ah, sepertinya memang beginilah orang-orang yang tidak memercayai eksistensi Tuhan, tidak memercayai dirinya memiliki otak juga. Baiklah, saya konsisten bahwa saya seperti orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan dan otaknya. Eh, benar juga, mulai hari ini saya tidak akan membeli atau menggunakan helm, karena jika terjadi kecelakaan pada saya, tidak mungkin otak saya berceceran di jalan hingga menyusahkan orang-orang yang membersihkannya, saya 'kan tidak punya otak.
----------
Ilhamsetiabudi dari Blogspot adalah contoh kata kunci untuk menemukan saya dari kolom Google.

Saya rasa cukup.

Sampai jumpa lagi! Kalau masih hidup.


Rabu, 15 Juni 2016

Saya Sakit Rindu

Tiga puluh lima menit yang lalu, saya tertawa lepas terhadap apa pun. Yang memang lucu dan yang seharusnya tidak lucu pun saya tetap tertawa senang. Namun sekarang, secara tiba-tiba hati saya murung entah kenapa. Saya merasa sedih tak keruan. Ingin menangis tapi tak tahu harus menangis untuk apa.

Tiga puluh lima menit yang lalu saya tertawa lepas, sekarang saya sedih tanpa alasan.

Ini sama seperti minggu lalu. Mood saya yang tiba-tiba memburuk (minggu lalu) membuat saya bingung karena saya tidak bisa menangis dengan alasan yang tidak jelas. Tapi saya merasa bahwa sedih ini harus keluar seleluasa tawa saya sebelumnya. Dan malam itu, bantal yang saya gunakan untuk menutup wajah saya, basah sebagian. Saya melepas sedih di tempat saya tidur, pada tengah malam.

Lalu keesokan harinya, saya menceritakan semuanya kepada teman saya. Dan dia mengatakan bahwa saya sakit rindu. Sungguh, sok tahu sekali dia.

"Selamat! Loe terkena penyakit rindu. Tapi tenang, obatnya sederhana banget yaitu temu."
-Ungkap teman saya dengan sok tahu,  enam hari yang lalu.

Dan sekarang, setelah membasahi bantal dengan air mata (lagi) dan bertanya-tanya tentang siapa yang mungkin saya rindukan, kalimat keparat dari teman saya itu mengiang-ngiang di kepala saya. Dan membuat saya ngeri terhadap dua hal:
Pertama, bila obat rindu adalah temu, maka akan sulit mengobati saya yang merindu kepada entah-siapa; dan
Kedua, bila rindu adalah sebuah penyakit, maka saya tidak tahu bagian mana yang harus diobati, dan itu berarti sekarang saya sedang sekarat. Hampir mati dibunuh rindu.

Oh ya ampun.

Air mata menetes lagi dari mata saya, menyerap di bantal yang sudah basah sebagian.
"Mungkin, saya butuh temu, dengan dosis yang tinggi "
----------
Ilhamsetiabudi dari Blogspot adalah contoh kata kunci untuk menemukan saya dari kolom Google.

Saya rasa cukup.


Sampai jumpa lagi! Kalau masih hidup.

Seolah Arwah

Seolah arwah penasaran, dirinya datang ke kehidupan saya. Arwah yang penasaran terhadap beberapa hal, yang ingin mencapai beberapa tujuan, dan sesudahnya pergi kembali ke alamnya dengan tenang.

Memang, saya pernah merapalkan doa, berharap akan datang seseorang yang bisa memperbaiki semangat belajar saya, tapi siapa sangka? Lelaki dari masa lalu, yang datang karena ingin memastikan 'apakah saya membencinya karena kejadian 5 tahun lalu' adalah orang yang didatangkan Yang Maha Perencana untuk menjawab doa saya.

Awal kedatangannya, saya selalu menghindar.  Bukan karena benci--rasa benci itu sudah lama pergi sebenarnya--tapi karena cara dia datang sama seperti awal pertemuan kami, saya takut dibuatnya jatuh cinta lagi. Bukan karena saya sudah punya kekasih, tapi karena waktunya yang tidak tepat. Saya sedang tidak ingin jatuh cinta. Sedang tidak ingin teracuni.

Tapi tetap saja, hati saya hanya sekeras batu es, cepat atau lambat pasti akan cair. Saya wanita lemah. Mudah terlarut dalam waktu dan kehangatan.

Saya selalu ketus padanya, guna menutupi perasaan saya yang sebenarnya sudah cair. Tapi, saya selalu merespons.

Ah! Saya munafik. Padahal saya benci membohongi diri sendiri.

Jelang ujian besar kala itu, memang semangat belajar saya buruk. Sangat buruk. Tapi dengan lelaki itu, yang selalu berbagi cerita kehidupan sehari-harinya dan memberi beberapa paragraf motivasi membuat saya sadar bahwa saya harus memperbaiki semangat belajar saya yang berantakan. Dan dia yang membantu saya untuk merapikannya, membuat saya yakin bahwa dia adalah jawaban doa saya.

Janji-janji kecil kami buat bersama. Janji sederhana untuk ujian besar yang akan datang, seperti berjanji untuk tidak berlaku curang, harus mendapat nilai sebesar-besarnya, berjanji untuk bersaing berdua, dan berjanji untuk memberikan hadiah kepada pemenangnya nanti. Itu bagus untuk meningkatkan semangat belajar saya 'kan?

Tapi, saya sudah buat kesalahan. Kesalahan besar. Maksudnya, untuk apa saya membuat janji? Membuat janji sama saja membuat ikatan dengannya. Bukankah saya ingin dia pergi? Hatiku sungguh sudah mencair.

Bahkan, lebih bodoh lagi. Saya membuat janji kepada diri saya sendiri untuk mengajaknya makan martabak bersama (martabak adalah makanan kesukaannya, dan saya belum pernah makan itu), bermain binggo dengannya, dan berbagi cerita cinta dengannya. Janji bodoh memang, tapi, hey dia tampan dan menyenangkan, apa salahnya? Ah sudahlah, lagipula itu tidak terjadi.

Kemudian, entah beruntung atau bukan, dia pergi. Setelah ujian besar itu selesai, tak pernah lagi dia menampakkan diri. Seolah arwah, dia datang hanya untuk mencapai tujuannya, membantu saya meningkatkan semangat belajar (doa saya dahulu kepada Tuhan)

Dia pergi dari kehidupan saya tanpa meninggalkan jejak. Seolah arwah, tidak menapak.
Dia pergi begitu saja setelah mencairkan hatiku? Ah, mestinya saya berdoa lebih dari yang seharusnya.
*****
Kemudian, di sepertiga malam ketika tanganku menengadah  untuk memanjatkan doa, di atas sajadah di ruangan gelap dan sepi, seolah ada suara berbisik di telinga kananku yang tertutup mukena "Kamu wanita yang cantik, juga pendoa yang baik. Aku akan senantiasa mencintaimu, dari sisi ini."
----------
Ini fiksi. Gue mah cowok.

*beep*

Ilhamsetiabudi dari Blogspot adalah contoh kata kunci untuk menemukan saya dari kolom Google.

Saya rasa cukup.


Sampai jumpa lagi! Kalau masih hidup.